Aku bukan lagi anak kecil yang tak bisa membedakan rasa, lidahku sudah pandai membedakan mana rasa manis, pahit, asin, asam, dan berbagai rasa lainnya. Seiring dengan bertambahnya pengalaman mengukir cerita kehidupan, ternyata, tak selamanya manis bisa kurasakan manis, dan tak selamanya pula rasa pahit harus kurasakan pahit. Sebagai seseorang yang sudah cukup mengerti, aku harus bisa mengatur lidahku, "memaksa"nya untuk menyukai hal yang tidak ia sukai sekalipun, ya, itulah yang kulakukan dan memang harus kulakukan.
Begitupun dengan terik matahari, ia membuatku mengerutkan kedua alisku, membuat tubuhku berkeringat karena hawa panas yang aku rasakan dari sinarnya yang semakin hari semakin membakarku. Aku merasa seperti tak ada tempat untuk berteduh, setidaknya, untuk melindungi tubuhku dari panasnya matahari, aku sudah lelah, dan mungkin, aku hampir menyerah.
Tapi, aku salah, jauh disana terlihat sebuah tempat berlindung yang sangat indah, yang sebelumnya tak kusadari, yang sebelumnya malah kujauhi, betapa bodohnya aku ini?
Ya, tempat berlindung itu..... Aku harus pergi kearah sana, agar aku bisa terlindung dari matahari yang begitu panas, dan mengistirahatkan badanku yang sudah amat sangat lelah ini. Dan aku yakin, ditempat itu pula, aku bisa menemukan obat yang paling mujarab untuk mengobati lidahku yang selama ini selalu kupaksa untuk menyukai apa yang tak ia sukai. Ya, tempat itu, itulah tempat kemana aku harus menuju. Tempat dimana semua manusia beriman mengadu setiap permasalahan hidupnya, dan mengucap syukur atas segala nikmat yang diberi oleh sang maha pencipta.
Banyak yang melihatku seperti insan pada umumnya, mereka tidak tau saja, bahwa lidahku ini sudah tak kuat menahan rasa yang tak jelas, dan tubuhku pun sudah tak kuat menahan panas matahari yang hampir membakar tubuhku ini, perjalananku menuju tempat itu pun sangatlah rumit, semuanya melihatku, menatapku, memandangku, ya, aku harus tunjukkan bahwa aku baik-baik saja.....
Setidaknya aku masih punya kesempatan untuk menuju tempat itu, untuk mengadu kepadaNya, berlindung dan memohon ampun kepadaNya.
Lihatlah aku, aku yang tak kalian ketahui sepenuhnya, ketika aku harus menahan rasa-rasa aneh dilidahku, aku harus kuat, bahkan ketika aku harus menari-nari dibawah terik matahari yang membakarku pun, aku harus kuat, lagi-lagi, aku harus memaksa tubuhku, agar ia menyukai rasa panas yang bergejolak ini, menganggapnya dingin dan sejuk, sulit memang, tapi, inilah aku, ketika aku menari bersama "dingin"nya matahari, aku yakin aku kuat, sampai tiba masa dimana, kesejukan yang nyata datang padaku. Aku yakin..... aku yakin... aku kuat, aku kuat, karena ada sang maha pemilik kekuatan yang akan menolongku, Allah SWT..... :)