Selasa, 22 Desember 2015

Tidak Akan Menyerah

Malam ini untuk yang kesekian kalinya aku harus menerima pilu pahit, hah sudahlah, aku sebenarnya tidak harus sesedih ini, karena aku sudah terbiasa dengan ini semua, tapi, biar bagaimanapun, tidak semudah itu untuk menerima begitu saja...

Banyak yang sudah kukorbankan untuk meraih keinginanku yang satu ini, entah karena usahaku yang kurang kulakukan, entah karena doaku yang kurang terpanjatkan, entah karena ada benih sombong di hatiku sehingga Allah menahannya dulu, entah karena memang ada yang lebih baik, atau mungkin entah karena waktunya yang belum tepat....

Ah, apapun itu, sebagai manusia, yang bisa kulakukan hanyalah pasrah kepadaNya, menyadari bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendakNya, aku tak bisa memaksakan skenario yang telah Ia siapkan dengan sangat sempurna untukku, hambaNya yang berlumur dosa ini...

Ya Allah, jika memang ini semua terjadi untuk membuat aku agar menjadi sosok yang lebih baik lagi, maka dengan segala kepasrahan hatiku, jangan jadikan aku sosok manusia yang mudah menyerah, ya Allah jagalah semangatku ini, agar aku bisa tetap memperjuangkan ini sampai aku benar-benar mendapatkannya, sampai pada suatu masa dimana aku bisa menggenggam erat mimpi yang aku inginkan itu...

Jangan sampai putus asa menggerogoti tekadku, jangan sampai menyerah menghilangkan semangatku. Banyak hal yang harus ku syukuri, biarlah ini semua menjadi pembelajaran. Bismillah..... Saya akan terus berusaha dan tidak akan menyerah! ^^

19.20 WIB,
20 Juli 2015,

Senin, 14 Desember 2015

Karena Hatiku Menolak Untuk Menyerah


Rasa cemas yang senantiasa mengiringi langkah ini, merayuku untuk menghentikan langkahku, meragukan tekadku, menciutkan harapku.

Rasa takut yang senantiasa aku rasakan, yang mengiringi harapanku itu seakan menjadi momok menakutkan bagiku untuk melangkah. Rasanya aku ingin mundur melihat ketidakmungkinan yang begitu besar berdiri dengan tegaknya dihadapanku.

Aku ingin mundur, aku ingin menyerah, aku ingin berhenti disini saja, aku tidak mau memperjuangkannya lagi, karena mungkin hasilnya akan sama, aku harus mengulang lagi dari awal, nantinya.

Semua pikiran-pikiran itu lah yang akhir-akhir ini menghantui nafasku, menganggu nyenyaknya tidurku, hinggap dipikiranku.

Aku hanya tak ingin kecewa untuk kesekian kalinya, dan tak ingin mengecewakan.
Disisi lain, aku punya tanggung jawab yang sangat besar untuk diriku sendiri, jika bukan aku yang berusaha untuk membuat diriku ini menjadi lebih baik, lalu siapa lagi? Jika bukan aku yang berusaha sendiri untuk membuat aku memahaminya, lalu siapa lagi?

Kini, ingin kukatakan pada diriku yang lemah ini, bahwa mustahil bukan berarti tidak mungkin, bukan? Tetapi tetap saja, cemas ini tak bisa hilang begitu saja, takut ini tak bisa lenyap begitu saja.

Aku ingin menyerah tapi hatiku berkata jangan.

Aku ingin mundur tapi hatiku berkata tidak.

Aku ingin berhenti tapi hatiku berbisik lanjutkan.

Jika aku menuruti kata hatiku, mungkinkah semuanya akan berjalan baik-baik saja? Kini kusadari bahwa jawabannya ada pada diriku sendiri. Sesuatu yang telah lama aku inginkan dan telah ada didepan mataku, haruskah aku lepaskan begitu saja, tanpa mencoba untuk memperjuangkannya?
Iya, aku memang ingin menyerah melihat kesulitan-kesulitan itu. Tapi, aku percaya padaNya yang akan selalu menolongku. Jika aku menyerah sekarang, mungkinkah nanti aku akan mendapatkan kesempatan yang sama lagi?

Terimakasih kepada semua yang telah mendoakanku, senantiasa memberikan dukungan kepadaku, apa yang kalian ungkapkan, doa kalian, dukungan kalian, telah membuat rasa takut dan cemas itu perlahan pudar. Tidak sepenuhnya memang, tapi setidaknya, kekuatanku sekarang, semangatku sekarang, lebih besar daripada rasa takutku itu.

Ketika hatiku menolak untuk menyerah,

Kakiku melangkah maju, mataku menatap jauh kedepan, harapku semakin membara, dukungan yang kudapatkan itulah bahan bakar yang kini menyulut semangatku.

Bismillah...

Terimakasih semuanya,

Semoga kabar baik segera kuterima.

Senin, 16 November 2015

Sepucuk surat untuk 3 masa hidupku


Untukmu, masa laluku,

Terimakasih atas segala pengalaman-pengalaman yang telah kau ukir dikehidupanku, kau adalah bagian dari kisah hidupku, kau adalah bagian terpenting dalam hidupku, kau membuatku paham tentang apa saja yang harus kulakukan, kau membuatku paham tentang hal-hal yang harus kuhindari. Kini, biar cerita indahmu kususun rapih dalam buku perjalanan kehidupanku, tak akan kuusik, sedikitpun kesalahan yang telah kulakukan, tak akan pernah sekalipun aku menyalahkanmu, kisahmu terlalu indah untuk tertutupi oleh kesedihanku..... Aku ingin membuatmu bangga masa laluku, walaupun oleh sebagian orang kau mungkin terlihat suram, tetapi di masa depan, kau akan menjadi mutiara berkilauan diantara lumpur-lumpur yang telah mengotorimu itu. Sekali lagi, terimakasih atas segala kesenangan yang telah kita rasakan bersama, kesedihan yang telah kita lalui bersama, kemenangan dan kekalahan yang telah kita hadapi bersama...

Untukmu, masa depanku,

Bismillah... Tenanglah masa depanku, akan kubingkai cerita indah bersamamu nanti, akan kuletakkan kau disebuah tempat yang sangat indah, ingatlah masa depanku, kau yang kini sedang kuperjuangkan, kau harus lebih baik dari masa laluku, mari kita berikan kebahagiaan yang tak terkira pada sang masa lalu yang telah memberi banyak pelajaran...

Untukmu, kehidupanku saat ini,

Kubingkai lukisan warna-warni kisah masa laluku, di atas sebuah meja pembelajaran kehidupan, kuletakkan rapih setiap cerita indah dalam buku kenangan... Aku akan tetap melakukan yang terbaik dan tidak akan pernah menyerah! J

Bogor, 6 Juni 2015

Kamis, 12 Maret 2015

Ketika aku menari bersama dinginnya matahari.

Aku bukan lagi anak kecil yang tak bisa membedakan rasa, lidahku sudah pandai membedakan mana rasa manis, pahit, asin, asam, dan berbagai rasa lainnya. Seiring dengan bertambahnya pengalaman mengukir cerita kehidupan, ternyata, tak selamanya manis bisa kurasakan manis, dan tak selamanya pula rasa pahit harus kurasakan pahit. Sebagai seseorang yang sudah cukup mengerti, aku harus bisa mengatur lidahku, "memaksa"nya untuk menyukai hal yang tidak ia sukai sekalipun, ya, itulah yang kulakukan dan memang harus kulakukan.

Begitupun dengan terik matahari, ia membuatku mengerutkan kedua alisku, membuat tubuhku berkeringat karena hawa panas yang aku rasakan dari sinarnya yang semakin hari semakin membakarku. Aku merasa seperti tak ada tempat untuk berteduh, setidaknya, untuk melindungi tubuhku dari panasnya matahari, aku sudah lelah, dan mungkin, aku hampir menyerah.

Tapi, aku salah, jauh disana terlihat sebuah tempat berlindung yang sangat indah, yang sebelumnya tak kusadari, yang sebelumnya malah kujauhi, betapa bodohnya aku ini?

Ya, tempat berlindung itu..... Aku harus pergi kearah sana, agar aku bisa terlindung dari matahari yang begitu panas, dan mengistirahatkan badanku yang sudah amat sangat lelah ini. Dan aku yakin, ditempat itu pula, aku bisa menemukan obat yang paling mujarab untuk mengobati lidahku yang selama ini selalu kupaksa untuk menyukai apa yang tak ia sukai. Ya, tempat itu, itulah tempat kemana aku harus menuju. Tempat dimana semua manusia beriman mengadu setiap permasalahan hidupnya, dan mengucap syukur atas segala nikmat yang diberi oleh sang maha pencipta.

Banyak yang melihatku seperti insan pada umumnya, mereka tidak tau saja, bahwa lidahku ini sudah tak kuat menahan rasa yang tak jelas, dan tubuhku pun sudah tak kuat menahan panas matahari yang hampir membakar tubuhku ini, perjalananku menuju tempat itu pun sangatlah rumit, semuanya melihatku, menatapku, memandangku, ya, aku harus tunjukkan bahwa aku baik-baik saja.....

Setidaknya aku masih punya kesempatan untuk menuju tempat itu, untuk mengadu kepadaNya, berlindung dan memohon ampun kepadaNya.

Lihatlah aku, aku yang tak kalian ketahui sepenuhnya, ketika aku harus menahan rasa-rasa aneh dilidahku, aku harus kuat, bahkan ketika aku harus menari-nari dibawah terik matahari yang membakarku pun, aku harus kuat, lagi-lagi, aku harus memaksa tubuhku, agar ia menyukai rasa panas yang bergejolak ini, menganggapnya dingin dan sejuk, sulit memang, tapi, inilah aku, ketika aku menari bersama "dingin"nya matahari, aku yakin aku kuat, sampai tiba masa dimana, kesejukan yang nyata datang padaku. Aku yakin..... aku yakin... aku kuat, aku kuat, karena ada sang maha pemilik kekuatan yang akan menolongku, Allah SWT..... :)

Rabu, 04 Februari 2015

Tanah Impian

Sebuah perjuangan seorang pemimpi
Pemimpi besar yang tak mengenal lelah
Kan kulangkahkan kedua kaki ini
Kemana arah ditunjukkan tanda panah
Panah
Kuserahkan gambar panah itu kepada sang maha Mengetahui
Tugasku
Melakukan sebaik mungkin
Sehingga, gambar-gambar panah itu bisa membawaku
Menuju sebuah kebahagiaan
Dan ku bisa berdiri
Diatas tanah impian!
MAN JADDA WA JADDA

Jumat, 09 Januari 2015

Antara aku, kamu, dan manusia bertopeng

Ada saat dimana seseorang tak bisa menjadi dirinya sendiri, saat dimana dia bersama orang-orang tertentu, bisa saja saat bersama orang yang sangat spesial baginya, atau bahkan sama sekali tak berarti.

Ada saat dimana seseorang ingin terlihat seperti orang lain, saat dimana dia melihat seseorang yang lebih baik darinya...

Manusia bertopeng
Jika kamu mau tahu apa yang biasanya manusia topeng lakukan, dia selalu bersikap diluar kebiasaannya jika sedang melakukan sesuatu yang berhubungan denganmu, dia selalu ingin terlihat lebih baik dimatamu, dia sebenarnya bukanlah orang yang kamu kenal sepenuhnya, kadang dia melakukan hal diluar kebiasaannya, diluar kehendaknya.

Manusia bertopeng
Bersikap seolah tak peduli, raut mukanya datar, dan sikapnya pun diam. Padahal, ada sesuatu yang dia sembunyikan dibalik topengnya, sepintar-pintarnya orang menyembunyikan kebenaran, tetap saja, matanya tak bisa berbohong. Ya, dibalik binar matanya itu terdapat sebuah tanda yang menggambarkan pesan kekaguman.

Manusia bertopeng
Ah... coba saja kamu punya alat untuk mendeteksi setiap orang, apakah dia bertopeng atau tidak, aku yakin kamu pasti bisa menemukan siapa sebenarnya orang yang selama ini selalu memakai topengnya saat menulis kata dibalik bilik layar percakapan media sosial itu. Kamu yang menganggap dia seperti yang tak peduli padamu, biasa saja, atau bahkan sering acuh padamu, coba saja kamu punya alat itu, kamu akan tahu apa yang sebenarnya.

Sudahlah, suatu saat topengnya pasti akan terlepas, jika tidak dia yang melepasnya, maka mungkin kamu yang akan melepasnya. Kamu hanya butuh sedikit rasa 'keingintahuan' saja tentang si manusia bertopeng itu.

Manusia bertopeng
Pasti manusia bertopeng itu akan malu kalau kamu tahu siapa dia sebenarnya, jangan kaget kalau suatu saat nanti ternyata si manusia bertopeng itu tak seperti yang kau pikir.
Jika kamu berpikir dia orang yang tak peduli padamu, kamu salah... justru apa yang sebenarnya itu ada dibalik topengnya, masih dia sembunyikan.

Pertanyaanku, apa yang akan kamu lakukan jika kamu tau bahwa selama ini namamu adalah nama yang selalu manusia bertopeng itu lukis dibalik diary pinknya itu?
Pertanyaanku, apa yang akan kamu lakukan jika kamu tau bahwa selama ini dia selalu menari kegirangan saat bisa saling bertukar pesan denganmu? Walau tak sering, tapi itu menjadi salah satu hal terindah dalam hidupnya.
Pertanyaanku, apa yang akan kamu lakukan jika tiba-tiba manusia bertopeng itu mengirim seuntai doa saat masa kehadiranmu di dunia bertambah? Tunggu saja saatnya, mungkin kamu hanya perlu sedikit 'merasa' apa yang ingin disampaikan si manusia bertopeng itu di balik untaian doanya itu. Perlu kamu tahu, selain kamu yang menunggu angka 19mu itu, si manusia betopeng itu juga menunggu, karena baginya, hari bahagiamu adalah hari bahaginya juga.
Dan pertanyaan terakhirku, apa yang akan kamu lakukan jika kamu tau, bahwa ternyata si manusia bertopeng itu adalah aku???

Manusia bertopeng
Ah... terlalu banyak cerita
Antara aku, kamu, dan manusia bertopeng, biar waktu yang menjawab, kutitipkan rindu pada angin, kutitip harap pada doa, dan kutitip rasa pada yang maha kuasa. Aku tak perlu risaukan? Toh, kita masih menatap langit yang sama, dan jika memang ditakdirkan bersama, maka akan ada saat dimana kita akan disatukan dan berdiri bersama di bawah langit cinta kita.

Manusia bertopeng
Ah... terlalu banyak cerita antara aku, kamu, dan.... manusia bertopeng.

Selasa, 06 Januari 2015

Semuanya belum usai...

Aku pernah mendengar sebuah kata: "Masa depan dimulai dari hari ini". Ya, aku percaya dengan kata-kata itu, masa depan tidak dimulai besok, lusa, atau bahkan tahun depan. Tapi, masa depan itu dimulai dari sekarang, detik ini, dan saat ini juga. Masa depanku, masa depanmu, masa depan kita semua. Apa yang kita lakukan saat ini, akan menentukan apa yang akan terjadi kedepannya.

_____

Kawan, kutulis tulisan ini di ruangan sederhana yang penuh dengan mimpi, di tengah situasi hati yang tak tahu harus kujelaskan seperti apa. Saat mutiara bening mengalir di pipiku, aku hanya bisa pasrah atas apa yang telah terjadi. Jika aku menyerah, aku hanya akan memperburuk situasi, yang aku bisa lakukan sekarang hanyalah berdoa dan berusaha, karena jika aku berdoa dan berusaha, aku pasti akan bisa menemukan jalan keluar, insya Allah.

Aku telah 'mengecewakan' diriku sendiri, aku yang kadang tak bisa mengatur cara hidupku, aku yang senang menunda belajar, aku yang selalu berharap lebih terhadap sesuatu, sampai akhirnya ketika aku gagal, aku tak tau harus menjelaskan seperti apa rasa hancurnya batinku. Aku selalu bertanya, kenapa aku selalu dikecewakan oleh hasil? Kenapa hasil itu tak selalu sesuai seperti yang aku inginkan? Padahal aku sudah berusaha "semampu"ku.... Ya, sekarang aku menyadari, bahwa aku dikecewakan hasil, karena prosesnya pun telah aku kecewakan. Aku yang merasa bahwa aku telah berusaha semampuku, ternyata itu salah, sangat salah! Nyatanya, usahaku seharusnya bisa lebih dari itu, dan harusnya memang aku bisa lebih dari itu. Aku hanya menunda, menunda, dan menunda, menganggap bahwa apa yang telah aku kerjakan itu cukup, dan ternyata tidak,,, diluar sana, banyak orang yang usahanya melebihiku, mereka pandai bersyukur, pandai mengatur waktu, sehingga pantas saja hasil yang mereka dapatkan melebihiku. Aku hanya harus meningkatkan ikhtiarku, dan menjaga semangatku....

Atas apa yang telah terjadi, jika boleh aku jujur, aku sangat marah dengan diriku sendiri! Kenapa aku dulu seperti itu? Menunda? Menganggap semuanya akan baik-baik saja? Kenapa?

Tapi... semuanya sudah terjadi, tak akan ada yang bisa diulang.

Aku diam sejenak, merenung,,, dan aku memutuskan untuk memaafkan diriku, aku ingin berdamai dengan diriku, dengan hatiku, dengan hidupku, aku ingin menjadi seseorang yang baru, yang lebih semangat, tidak mudah menyerah, dan selalu melakukan yang terbaik...

Terimakasih untuk ibu, keluarga, sahabat, guru, dosen, dan semuanya yang selalu mendukungku dan mendoakanku...

Mulai saat ini, detik ini, aku tekadkan dalam hatiku, bahwa apa yang telah kutulis dalam buku impian itu harus aku perjuangkan, sampai titik darah penghabisan.

Aku akan memulai semuanya dari awal lagi, mengikuti alur yang seharusnya dengan sebaik mungkin. Biarlah itu semua menjadi cermin bagiku, agar aku bisa tahu, mana yang lebih baik kukerjakan, dan mana sebaiknya yang harus kuhindari.

Semuanya belum usai, aku masih akan tetap dan memang harus menaiki tangga harapan itu, sampai aku bisa mendapatkan apa yang ada 'disana', diujung tangga harapan itu, dan aku akan menaiki tangga-tangga harapan yang lain... walau harus menempuh banyak ujian rintangan dan keterbatasan. Tapi, itu semua bukanlah alasan untukku menjadi mundur, tidak, tidak akan... Semuanya sudah ada didepan mataku, aku hanya harus meningkatkan ikhtiarku, menjaga semangatku, dan aku akan selalu menaruh baris-baris mimpiku disetiap doa dan sujudku. Hanya kepadaMu ya Allah... jika bukan padaMu, pada siapa lagi aku bisa meminta ketegaran hati?

Baiklah... Aku akan selesaikan semuanya, melakukan yang terbaik, meningkatkan usahaku dari sebelumnya, sampai pada akhirnya,,, ada kebahagian atas pembelajaran dari kesalahan yang telah kulakukan... ya, semuanya bukan untuk disesali, tapi dijadikan pembelajaran, akan selalu ada hikmah dibalik semua ini, dan semuanya belum usai.....

_____
Bogor, 06 Januari 2015