Senin, 14 Desember 2015

Karena Hatiku Menolak Untuk Menyerah


Rasa cemas yang senantiasa mengiringi langkah ini, merayuku untuk menghentikan langkahku, meragukan tekadku, menciutkan harapku.

Rasa takut yang senantiasa aku rasakan, yang mengiringi harapanku itu seakan menjadi momok menakutkan bagiku untuk melangkah. Rasanya aku ingin mundur melihat ketidakmungkinan yang begitu besar berdiri dengan tegaknya dihadapanku.

Aku ingin mundur, aku ingin menyerah, aku ingin berhenti disini saja, aku tidak mau memperjuangkannya lagi, karena mungkin hasilnya akan sama, aku harus mengulang lagi dari awal, nantinya.

Semua pikiran-pikiran itu lah yang akhir-akhir ini menghantui nafasku, menganggu nyenyaknya tidurku, hinggap dipikiranku.

Aku hanya tak ingin kecewa untuk kesekian kalinya, dan tak ingin mengecewakan.
Disisi lain, aku punya tanggung jawab yang sangat besar untuk diriku sendiri, jika bukan aku yang berusaha untuk membuat diriku ini menjadi lebih baik, lalu siapa lagi? Jika bukan aku yang berusaha sendiri untuk membuat aku memahaminya, lalu siapa lagi?

Kini, ingin kukatakan pada diriku yang lemah ini, bahwa mustahil bukan berarti tidak mungkin, bukan? Tetapi tetap saja, cemas ini tak bisa hilang begitu saja, takut ini tak bisa lenyap begitu saja.

Aku ingin menyerah tapi hatiku berkata jangan.

Aku ingin mundur tapi hatiku berkata tidak.

Aku ingin berhenti tapi hatiku berbisik lanjutkan.

Jika aku menuruti kata hatiku, mungkinkah semuanya akan berjalan baik-baik saja? Kini kusadari bahwa jawabannya ada pada diriku sendiri. Sesuatu yang telah lama aku inginkan dan telah ada didepan mataku, haruskah aku lepaskan begitu saja, tanpa mencoba untuk memperjuangkannya?
Iya, aku memang ingin menyerah melihat kesulitan-kesulitan itu. Tapi, aku percaya padaNya yang akan selalu menolongku. Jika aku menyerah sekarang, mungkinkah nanti aku akan mendapatkan kesempatan yang sama lagi?

Terimakasih kepada semua yang telah mendoakanku, senantiasa memberikan dukungan kepadaku, apa yang kalian ungkapkan, doa kalian, dukungan kalian, telah membuat rasa takut dan cemas itu perlahan pudar. Tidak sepenuhnya memang, tapi setidaknya, kekuatanku sekarang, semangatku sekarang, lebih besar daripada rasa takutku itu.

Ketika hatiku menolak untuk menyerah,

Kakiku melangkah maju, mataku menatap jauh kedepan, harapku semakin membara, dukungan yang kudapatkan itulah bahan bakar yang kini menyulut semangatku.

Bismillah...

Terimakasih semuanya,

Semoga kabar baik segera kuterima.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar